Sukamarga dan Lagaligo

Lagaligo (Jagung Komposit)

 

Oleh Administrator
Selasa, 21 Februari 2012 08:42
LAGALIGO

 

Tanggal dilepas                : 8 November 1996
Asal                               : seleksi saudara tiri (half sib) Arjuna dengan tetua penguji varietas Rama. Rekombinasi
menggunakan 20 galur S4 yang berasal dari 10 galur S2 yang daya gabungnya baik,
galur S1 dan S3 diseleksi terhadap penyakit bulai
Umur 50% keluar rambut  : ± 50 hari
Masak fisiologis                 : ± 90 hari
Batang                           : ketegapan sedang
Warna batang                  : hijau
Tinggi tanaman                : ± 200-225 cm
Warna daun                     : hijau agak tua
Perakaran                        : cukup baik
Kerebahan                       : cukup tahan
Bentuk tongkol                 : silindris
Tinggi tongkol                  : ± 110-125 cm
Kelobot                           : tertutup baik (± 95 cm)
Tipe biji                            : mutiara (flint)
Warna biji                         : kuning
Baris biji                            : lurus dan rapat
Jumlah baris/tongkol           : 12-14 baris
Bobot 1000 biji                  : ± 280-290 g
Rata-rata hasil                    : 5,25 t/ha pipilan kering
Potensi hasil                      : 7,5 t/ha pipilan kering
Ketahanan penyakit            : tahan terhadap penyakit bulai (P. maydis)
Daerah sebaran                  : sesuai untuk dataran rendah
Pemulia                             : Marsum Dahlan, Soegijanti Slamet, Moedjiono, Made J. Mejaya, dan Mustari Basir

http://balitsereal.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=111:lagaligo-jagung-komposit&catid=44:database-varietas-jagung

Sukmaraga (Jagung Komposit)

 

Oleh Administrator
Selasa, 21 Februari 2012 08:20

SUKMARAGA

Tanggal dilepas                : 14 Februari 2003
Asal                               : Bahan introduksi AMATL (Asian Mildew Acid Tolerance Late), asal CIMMYT Thailand
dengan introgressi bhan local yang diperbaiki sifat ketahanan terhadap penyakit bulai.
Populasi awalnya diseleksi pada tanah kering masam Sitiung Sumbar, dan tanah sulfat
masam di Barambai (Kalsel). Hasil kombinasi diuji pada berbagai lingkungan asam normal
Umur 50% keluar rambut : ± 58 hari
Masak fisiologis                : ± 105-110 hari
Batang                          : tegap
Warna batang                 : hijau
Tinggi tanaman               : ± 195 cm (180-220 cm)
Daun                             : panjang dan lebar
Keragaman tanaman        : agak seragam
Perakaran                       : dalam, kuat dan baik
Kerebahan                      : agak tahan
Malai                              : semi kompak
Warna rambut                 : coklat keunguan
Bentuk tongkol                : panjang dan silindris
Tinggi tongkol                 : ± 195 cm (90-100 cm)
Kelobot                          : tertutup baik (85%)
Tipe biji                          : semi mutiara (semi flint)
Warna biji                        : kuning tua
Baris biji                          : lurus dan rapat
Jumlah baris/tongkol        : 12-16 baris
Bobot 1000 biji               : ± 270 g
Rata-rata hasil                  : 6,0 t/ha pipilan kering
Potensi hasil                   : 8,5 t/ha pipilan kering
Ketahanan penyakit        : cukup tahan terhadap penyakit bulai (P. maydis), penyakit bercak daun (H. maydis), dan penyakit karat daun (Puccinia sp.)
Daerah sebaran              : dataran rendah sampai 800 m dpl, adaptif tanah masam
Pemulia                         : Firdaus Kasim, M. Yasin HG, M. Basir, wasmo Wakman, Syafruddin, A. Muliadi, Nurtirtayani, dan Andri

http://balitsereal.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=105:sukmaraga-jagung-komposit&catid=44:database-varietas-jagung

 

Permasalahan yang dijumpai pada daerah yang berbasis jagung Desa Sinar Tebudak (2007) adalah adanya serangan penyakit bulai pada tanaman jagung, rendahnya produktivitas tanaman sayuran, tanaman padi dan lada dan masalah perkandangan pada ternak sapi. Untuk mengendalikan penyaklit Bulai pada tanaman jagung dilakukan dengan rotasi tanaman, menggunakan bibit unggul dan perbaikan budidaya dan pasca panen, sedangkan peningkatan pendapatan dapat dilakukan dengan usahatani terpadu, dalam hal ini yang menguntungkan adalah jagung ternak sapi, sayuran, padi dan lada juga dengan pengolahan produk pertaniannya.
Sekitar 60 % lahan tanaman jagung di desa Sinar Tebudak tahun 2007 beralih fungsi ke tanaman lainnya seperti tanaman karet, sawit dan sayuran, hal ini disebabkan karena adanya serangan penyakit bulai, rendahnya harga jagung (kalah bersaing) dengan komoditas perkebunan seperti karet dan sawit.   Kerugian akibat serangan penyakit bulai pada tanaman jagung sebanding dengan penurunan produktivitasnya artinya bila serangan bulai mencapai 50 % maka mengakibatkan penurunan produktivitasnya sebesar 50 %.
Hasil Survey (2007) bahwa sekitar 80 – 90 % tanaman jagung di Sanggau Ledo terserang penyakit bulai, hal ini disebabkan karena penggunaan lahan secara terus menerus (intensif) sehingga menyebabkan terjadinya serangan bulai.  Menurut (Wasman, 2008) bahwa untuk mengatasi penyakit bulai perlu dilakukan penanaman serempak, eradikasi tanaman dan penanaman varietas tahan bulai

Dari : http://kalbar.litbang.deptan.go.id/ind/index.php?option=com_content&view=article&id=219:jagung&catid=75:rekomendasi-teknologi&Itemid=161

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s